Kamis, 18 Juni 2015

Cita dan Cinta Memerah di Ujung Senja



Wanita cantik berbibir merah merekah tersenyum mempesona, tubuh sintal padat berisi dibalut kulit mulus harum mewangi dengan paduan gaun malam yang serasi di ruangan remang. Membuat mata para lelaki berjiwa sepi haus akan kenikmatan dunia gemerlap memandang takjub mengagumi, sebatang rokok yang mengepulkan asap terselip di jari-jari lentik seakan memanggil dan mengajak untuk segera memilikinya. Akupun tersenyum dan ikut menikmati suasana dan pemandangan itu, indah memang. Tak berapa selang waktu diantara cahaya remang dan kepulan asap berjalan sesosok lelaki tanggung berwajah tampan dengan postur tubuh atletis melangkah pasti tanpa ragu menuju wanita cantik itu. Pandangannya begitu dingin namun tajam, dengan santai lelaki itu duduk disamping wanita cantik. Sebuah ciuman mendarat tepat di keningnya sebelum ia duduk. Aku hanya terperangah, segudang pertanyaan bermunculan dipikiran.

Siapakah lelaki itu? Simpanan wanita itukah? Entahlah. Namun yang pasti terlihat teman lelaki yang mengobrol dengan wanita itu segera beranjak sambil menganggukkan kepala dengan sopan, sehingga tinggal wanita cantik dengan lelaki tanggung tampan itu. Kemudian wanita dan lelaki tampan itu terlihat melakukan percakapan dengan akrabnya tanpa ada rasa cangggung sedikitpun. Terlihat wanita itu menatap lelaki itu dengan rasa penuh kasih sayang, dan tangannya tak lepas memegang dan membelai tangan lelaki itu. Karena penasaran dan rasa ingin tahu yang begitu tinggi, membuat aku segera beranjak dari tempat semula. Lalu duduk bersebelahan dengan tempat mereka yang kebetulan ada yang kosong. Sedikit samar, tapi cukup jelas percakapan mereka. Wanita itu berucap"Maaf, ini semua dilakukan untuk kebahagianmu, aku ingin melihat kamu bahagia nanti dan meraih cita-citamu. Setelah semuanya tercapai, mama akan keluar dari tempat ini. Tugas kamu saat ini adalah belajar dengan baik..."  Akupun tersedak!!! Sementara lelaki itu hanya mengangguk pelan tanpa berkata sepatah katapun, namun di kedua bola mata terlihat titik penolakan apa yang di ucapkan wanita itu. Hatinya terenyuh, dadanya seakan berkecamuk menahan gemuruh kesedihan yang tak tertahankan melihat semua kondisi yang sulit di terima oleh akal sehat. Ia berusaha sekuatnya menyembunyikan rasa itu, tidak mau terlihat lemah di depan wanita itu. Lelaki mana yang sudi dan tega melihat wanita yang di hormati berkorban mempertaruhkan harga dirinya demi kebahagian dan kesuksesannya. Tapi itulah kenyataan yang harus di jalaninya, perih...

Seiring dentuman musik yang mulai membahana di selingi  kerlap-kerlip lampu di ruangan, tidak lama kemudian lelaki itu pun beranjak pergi, pamit dengan mencium tangan wanita itu tak lupa ciuman di kedua pipinya. Kemudian wanita itu memberikan sebuah amplop yang berisikan uang entah dengan jumlah berapa kepadanya. Dari besarnya amplop itu tampak cukup banyak. Lalu lelaki itu menghilang diantara riuhnya pengunjung ruangan itu. Wanita itu pun kembali bercengkrama manja bujuk rayu dengan lelaki yang semula menemaninya. Akan berlanjut, dan berakhir di tempat yang membuat jiwa sepi itu melayang dengan desahan nafas memburu dan terkulai layu tinggalkan sisa lenguhan nikmat sesaat. Hmmm,,, hanya bisa menarik nafas dalam melihat pemandangan yang sangat luar biasa dan sulit di cerna oleh akal sehat. Ya sudahlah, lupakan.  Beranjak segera dari tempat itu jalan terbaik. Kaki pun melangkah keluar, terus kepelataran parkir. Waktu mau berlalu dari tempat itu terasa sebuah tangan menepuk punggung dari belakang, tidak keras. Tapi cukup membuat kaget, dengan sikap yang waspada coba menoleh kebelakang. Dalam hati bertanya siapakah, dan ada apa gerangan?

Pelahan tapi pasti majahpun menoleh, ternyata wanita cantik itu telah berdiri tepat di belakang sehingga hidung bangir dan bibir merahnya hampir bersentuhan dengan wajah ini. Ia hanya tersenyum, lalu dengan bahasa isyarat tanpa berkata mengajak untuk kembali kedalam. Seakan-akan terhipnotis tubuh ini pun mengikuti langkah anggunnya. Tidak lama selang waktu, kamipun duduk di tempat semula ia dan teman lelakinya tadi, mata liar mencari dimana lelaki tadi. Terlihat wanita cantik itu tau apa yang ada dalam pikiranku, dengan tetap santai ia berkata "lupakan lelaki tadi, sekarang giliran anda menemani saya di sini. Oke?" Belum sempat menjawab segelas minuman di suguhkan, dan tanpa dapat menolak mengambinya. "Oh, ini minum mahal, bisa dua hari uang makan ini..." Hanya bisa bicara dalam hati. Kemudian wanita itu berkata lagi "Gimana Joe, bisa menikmati malam ini dengan santai?" Kembali diri ini tercengang heran, kok wanita ini bisa tau nama saya? Sementara ia tetap tersenyum santai seakan bisa membaca apa yang dirasakan. Kembali ia berkata" Apakabar? Sudah lama tidak bertemu dan saya bisa mengerti, ya tidak apa-apa. Lagian kita memang hanya sekali bertemu itupun waktunya singkat dan sudah lama sekali..." Lalu ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya, terlihat itu sapu tangan warna merah dengan ada sebuah nama yang disulam benang warna perak, itu nama saya JOE!!! Kembali saya tersentak melihat sapu tangan yang sangat saya sayangi dan inginkan beberapa tahun silam lalu. Sapu tangan itu, ya sapu tangan itu. Saya kenal!!!

Kembali wanita itu berkata "Bagaimana dengan ini, kamu ingat?" Ya Tuhan, Wanita itu bertemu di tempat pengrajin tangan yang ada di salah satu kota wisata yang pernah aku kunjungi beberapa tahun silam. Waktu itu sangat tertarik dengan warna merah dan sulaman warna perak, lalu memesannya dan minta di bikin nama saya sendiri. Tapi hal diluar dugaan ketika mau membayar setelah selesai, kaget setengah mati dengan harga yang diberitahu oleh sang pengrajin. Harganya sangat mahal dengan ukuran orang sekelas saya. Ya, uang saya tidak cukup untuk mengambilnya. Malu, sedih, dan kesal pada diri sendiri. Kenapa tidak di tanyakan dulu harganya berapa? Benar-benar hal yang tak bisa di lupakan. Sipengrajin hanya bisa tersenyum tipis kecewa ketika saya menyampaikan bahwa tidak jadi mengambil pesanan itu, dengan jujur berkata bahwa uang tidak cukup, kalau saya ambil juga tentu harus jalan kaki pulang dan tidak bisa makan. Sementara di sebelah saya waktu itu ada seorang wanita cantik yang hanya melirik sepintas dan tersenyum ramah, dengan hati yang miris kemudian saya berlalu dari tempat itu. Dengan harapan sipengrajin tidak membuka sulaman bertuliskan nama saya, jika suatu saat nanti kembali kekota ini akan mengambil dan membayarnya. Sebuah hal yang tak mungkin terjadi, karena kota wisata itu berada sangat jauh dari tempat saya menetap. Malan ini, sapu tangan itu berada dihadapan saya. Masih dengan pikiran yang masih mengingat kejaadian itu, wanita tadi kembali berkata "Maaf waktu kejadian itu saya mau membantu kamu, tapi saya tidak bisa. Karena saya yakin bahwa kamu akan menolaknya. Seperginya kamu, saya mengambil dan membayarnya kepada pengrajin itu. Saya juga tertarik dengan pilihan warna sulaman dengan nama kamu ini, sekali lagi saya mohon maaf tidak bermaksud lancang. Dalam hati saya juga berharap suatu saat nanti, entah dimana saya sendiri tidak tau, jika bertemu dengan kamu saya akan memberikannya. Maka tidak heran jika saya tau nama kamu, karena sapu tangan ini selalu saya bawa kemana saya pergi. Ternyata tuhan mengabulkan keinginan saya, meski kita bertemu di tempat seperti ini. Dari awal kamu masuk, duduk, lalu pindah di sebelah saya yang kita tempati sekarang ini. Sudah tau bahwa itu kamu, makanya setelah kamu pergi tadi diam-diam saya mengikuti kamu dari belakang... Semarang sapu tangan  ini saya berikan untuk kamu Joe, terima ya..." Kata wanita itu. Sementara diriku masih tetap terdiam, hanya kedua bola mata yang sesekali berkedip sebagai tanda bahwa sedang mendengarkan apa yang di sampaikan wanita itu. Lalu angkat bicara " Ya, terima kasih sekali atas kebaikannya, saya sangat senang dan merasa tidak bisa membalas kebaikan...?" Kebingungan harus memanggil wanita itu dengan sebutan apa. Terlihat wanita itu faham dan mengerti, kemudian kembali berkata " Ya sudah, kamu tidak usah bingung begitu. Mau panggil kakak, mbak, tante, atau langsung panggil nama juga tidak masalah. O ya, nama saya Reana..." katanya. Namanya singkat dan mudah diingat, sepertinya aku lebih suka memanggilnya dengan Kakak. " Ya saya panggil Kak Reana saja ya..." kataku. "Oke, yang penting nyaman dan enak didengar..." Kata wanita itu. Lalu kembali ia menyulut rokok, asap pun mengepul dari bibir tipis nan seksi merah merona itu. Tanpa ketinggalan menikmati minuman mahal tadi.

Tak terasa hari akan mendekati subuh, terlihat pelayan mulai membereskan ruangan. Tamu pun hanya tinggal beberapa orang saja dan kemudian pergi entah kemana tujuan mereka. Kami pun segera beranjak dari tempat itu, masalah minuman tadi aku mengerti semua pasti sudah ada yang membayarnya. Makanya dengan santai wanita itu keluar tanpa harus membayar semua pesanan tadi terlebih dahulu. Kami terus menju parkiran, tanpa disadari  aku mengikuti arah wanita itu padahal yang di tujunya parkiran mobil. Sedangkan aku seharusnya menuju parkiran motor. Reana kembali angkat bicara " Kamu bisa nyetir Joe? kamu saja yang nyetir ya. Saya merasa lelah..." Sambil memberikan kunci mobilnya tanpa sempat aku menjawab terlebih dahulu. Dengan sedikit kaku memberanikan diri menyetir mobil mewah tersebut. Dengan sangat hat-hati menjalankan mobil dan keluar dari parkiran, karena memang belum pernah membawa mobil mewah seperti itu. Reana memang terlihat lelah, ia hanya diam sambil menatap kedepan. Jalanan terlihat sepi, tidak begitu banyak mobil yang berlalu lalang. Sehingga membuat mobil yang dikendarai melaju tanpa halangan. Kami telah jauh meninggalkan tempat hiburan tadi, sementara Reana terlihat tertidur begitu lelapnya disamping. Entah sudah berapa lama ia tertidur aku tidak tau pasti, yang jelas ia megitu menikmati lelapnya itu. Sehingga merasa enggan untuk membangunkanya, dan bertanya harus kemana mengantarkannya.

Kecantikannya semangkin terlihat jelas disaat tidur, wajahnya begitu teduh memancarkan bahwa sebenarnya ia adalah seorang wanita baik-baik, tapi entah setan mana yang menuntun ketempat yang tidak pantas untuk seorang wanita sepertinya. Ya, sudahlah. Itu mungkin memang jalan hidup yang harus ia tempuh dan jalani diantara riuh dan kerasnya kehidupan belantara ibu kota. Mobil terus melaju tanpa arah dan tujuan sehingga mentari pagi mulai terlihat akan memberikan sinar kehidupan disiang hari dengan keangkuhannya.

Bersambung...

By: Abhenk Gokil



                                                                        












3 komentar: