Dirinya merupakan sosok wanita sederhana yang rendah hati meski ada beberapa hal yang harus dan pantas dibanggakan yang ada pada dirinya. Akan tetap tidak menampakan kelebihan itu, tampak biasa-biasa saja. Banyak hal yang kudapati darinya, kelebihannya yang aku suka adalah selalu ada waktu dan siap untuk mendengar keluhan ketika mendapatkan satu masalah yang aku sendiri terkadang tidak bisa memecahkannya. Sering kuceritakan apa yang kualami, masukan dan nasehat selalu diberikan. Biasanya ketika aku pada mendapatkan masalah yang sangat membebani pikiran, kelemahanku sering menyelesaikan dengan tidak benar, aku meradang lepas kontrol. Tempat pelampiasan adalah akun sosial yang aku miliki. Cacian, hujatan dengan pasti akan menghiasi wall akun tersebut yang mana akan membuat risih dan gerah setiap yang melihat. Tanpa segan dirinya akan menanyakan meski lewat chat "Kenapa dirimu nak, ada apa sih? Sepertinya lagi prustasi, ayo cerita saja sama ibu, mana tau bisa membantu mencari jalan keluarnya..." Katanya. "Tidak ada apa-apa ibu. Aku baik-baik saja kok.." Aku tidak akan langsung jujur mengatakan bahwa memang lagi ada masalah, tetap mencoba menutupi padahal semua orang tau aku memang lagi prustasi atau stres lebih tepatnya karena bentuknya tertuang di akun sosialku.Tapi dirinya begitu paham dan dapat mengerti bahwa aku enggan menceritakan apa yang kualami, "Ya, syukurlah kalau tidak apa-apa. Ingat jangan Arogan ya...!" Aku faham kemana arah dan arti kata arogan tersebut, bahwa selesaikan masalah yang dihadapi dengan baik dan benar. Dirinya benar-benar sosok ibu yang aku kagumi dan segani. Dasarnya aku yang punya pola pikir rada-rada sableng. Sering juga membangkang dan usil. Sering diganggu, terkadang ketika lewat dibelakang ruangan kerjanya aku ketok-ketok jendelanya kemudian lari tanpa tanggung jawab dan rasa bersalah. Tidak berapa lama kemudian dirinya akan berteriak lewat chat "Abheeeeeennnnkkkk! Ketok-ketok jendela ruang kerja ibu ya? Ngagetin saja, Awas ya..!". Aku hanya nyengir-nyengir saja melihat chat tersebut, dan membalas "Iya ibu mak peri baik hati sedunia? Ada apa ya? Mana ada aku ketok-ketok tadi. Aku orang tidak kuliah kok, free...!" Ngeles tidak mengakui perbuatanku, "Hmmm...udah salah, tidak mau mengaku lagi..." balasan chatnya. "Hehehehe... Ampun ibu...!" Balasku. "Kalau ibu pingsan karena kaget gimana...?!?". Aku pun mebalas sesuka hati "Ya, pura-pura panik. Lalu teriak-teriak sekeliling kampus mengatakan mak peri pingsan...mak peri pingsan..!" Dirinya pun akan tertawa "Hhhhh, jangan durhaka sama orang tua. Dasar Jean Kids...!" Aku pun gusar bila dibilang jean kids. Maka akan kembali ada chat darinya "Loooool..." Puas juga membuat aku gusar.
Ah... Mak Peri memang sosok yang menyenangkan, bisa mengimbangi kejahilanku. Awalnya aku kasih gelar mak peri karena korban aplikasi yang mengajak untuk mengetahui siapa seorang peri dalam hidup. Kemudian akupun mencoba untuk mengikuti perintah aplikasi, yang keluar sebagai peri adalah nama asli mak peri. Tidak percaya, dicoba bebebrapa kali lagi karena kurang yakin. Tetap saja yang keluar namanya. Aku pun membagikan hasil akhir dari apliksi lewat akunku, menunjukkan kepada dunia maya bahwa mak perilah sebagai periku. Sejak itulah aku memanggilnya mak peri, jarang dengan panggilan ibu kecuali dalam kedaan darurat dan genting atau didepan teman-temanku. Aku memang jahil Ibu Peri aku plestin jadi Mak Peri. Mak peri terkadang juga suka usil orangnyan, misalnya aku lagi serius menanyakan sesuatu maka dengan seenaknya akan menjawab "Ogah ah, lagi sibuk. Lu nyinyirrrr... loooool...!" kata lol selalu akan nongol dilayar ketika berhasil membuat aku uring-uringan dengan jawabnya. Mak Peri emang lucu. Kadang nyebelin juga sih. Pake ada semacam pertandingan bola saja jika usilnya berhasil ngalahin usilku "1-0, 2-0, 0-3... (dan seterusnya) Loool...!" maka aku yang terbalik jadi makanan empuk usilnya.Terkadang aku juga gak abis pikir yang usil sebenarnya siapa sih??? Capek juga ngadapinnya. Mak Peri tidak suka bila aku over pamer, maka akan protes dengan halus. Pernah kamar kosku kemalingan, aku kasih laporan kemak peri dengan niat agar dibela dan ikut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Namun apa yang kudapatkan? "Hmmm, ikut prihatin. Makanya lain kali kalau punya apa-apa jangan suka pamer, makanya jadi perhatian maling lu. Kalau mau pamer, cukup sama mak peri saja...!" Miris juga hatiku! (Grrrkkkhh). Mau marah gak bisa, yang dikatakannya memang benar. Aku memang suka pamer, apa-apa pamer. Jepret! Apa yang dimiliki dipoto, lalu posting (norak juga ternyata. Baru nyadar, Hahhaha).
Meski bisa dibawa bercanda, jangan coba-coba melanggar apa yang tidak disukainya. Paling gak suka bila gak sholat sepertinya. Jangankan tidak sholat, telat waktunya saja akan abis diceramahin (Bu Hajah sih). Hahaa! Eit? Tidak becanda. Mak peri benaran Hajah, mungkin tidak begitu banyak orang mengetahui bahwa dirinya adalah seorang Hajah. Sempat kaget ketika iseng mencari tau data-data lengkapnya diwebsite yang mana disana ada struktur kepemimpin Universitas tempatku kuliah (Mak Peri ini Dosen sekaligus orang no One disalah satu Fakultas) Dapat, aku geleng-geleng kepala dan kejang-kejang (lebay). Mataku melotot! Terlihat awal dan akhirnya namanya tertera Hj. Dr. Ir. Jamilah Munir, MP. Masyaallah! Jadi yang sering aku usilin selama ini bukanlah wanita sembarangan. Merasa tidak enak hati dan merasa berdosa. Kemudian aku langsung chat dan protes, "Makkkkk...malas aku mah...!!!" Teriak tidak jelas. "What? Ada apa nak? Kenapa malas...???" Bingung dengan teriakanku. "Pokoknya aku malas, abis cerita. Titik!" Ocehanku semangkin membuat mak peri bingung, "Iya, malas kenapa... malas makan? Ooo...malas masuk kuliah dan malas sholat ya? Sini gua bogem luh...!" Weleh... malah saya mau dibogem, nekad juga ini mak peri. "Bukan! Neh...!" Balasku sambil mengirimkan screen namanya yang bertitle. "Looooooooooooooooooool...!" Tertawa. Aku makin jengkel, "Malas aku mah, mak curang! Menipu aku dengan titlenya yang bejibun! Aku maluuuu... sering usil dan gangguin mak. Ternyata mak bukan orang sembarangan...!" Kembali aku dilolin sama siemak "Loooooool...! Itu semuanya hanya titipan dari Allah SWT anakku sayang...! Kita harus mensyukuri semua pemberiannya. Suatu saat akan kembali jua kepada-Nya..." Jawaban sederhana, tapi padat berisi. Akupun terdiam disudut sambil manggut-manggut dan garuk-garuk kepala yang tidak gatal, "Iya mak... maafin aku sering usilin dan jahilin mak peri ya..." balasku. "Malas ah, biasa aja kali lebay...!" balas mak peri. Hahhaa, bahasanya itu lho. Bikin aku kembali garuk-garuk idung malahan, ngupil..! Hihi! "Oke, suka-suka mak bawel lah...! Haha! " balasku. "Mangkel ni yeeee...! Looool...!" Mak peri kembali memancing kejengkelenku, "Kalau mau mendapatkan semuanya itu, sekolah dan belajar yang rajin, rajin ibadah, rajin berdo'a... niscaya akan dijabah oleh Allah SWT..." dikasih pencerahan lagi. "Baiklah mak peri bu Hajah...!" Aku pun kabur, kabur dari dunia maya... Beberapa menit kemudian nongol lagi. Hahaha!
Terima kasih mak peri, telah banyak memberikan nasehat kepadaku, belum semuanya aku laksanakan dengan sempurna baik saran dan masukannya. Mohon maaf sering menggangu kesibukan mak peri, bahkan sempat penulisan Karya Ilmiahnya yang akan dipersentasekan ke Jogyakarta sempat tertunda penyelesaiannya karena meladeni ulah usil dan curhatan masalah yang kuhadapi...
"Mak Peri The Best, I Love U Mom"
By: Abhenk Gokil

Tidak ada komentar:
Posting Komentar